Tampilkan postingan dengan label trans tv. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label trans tv. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Juli 2009

Termehek-mehek Termasuk Yang Terburuk


dok.TransTV

Palmerah, Warta Kota

Termehek-mehek, acara yang ditayangkan setiap Sabtu dan Minggu di Trans TV, dinobatkan sebagai program televisi terburuk versi Yayasan Sains, Estetika, dan Teknologi (SET).

Beberapa waktu lalu Termehek-mehek mendapat sorotan setelah Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Fetty Fajriati Misbach, menyatakan acara TV yang diklaim sebagai reality show itu membohongi penonton karena tidak seluruh tayangan berdasarkan realita. Termehek-mehek lebih pantas disebut drama reality.

Hasil penelitian "Rating Publik Menuju Televisi Ramah Keluarga" yang dilakukan SET menyatakan bahwa Termehek-mehek menduduki peringkat ke-6 pada kategori program televisi terburuk (4,2 persen). Acara terburuk lainnya versi SET, seperti dilansir detiknews.com, adalah SuamiĆ¢€‘suami Takut Istri (Trans TV; 10,4 persen), Muslimah (Indosiar; 9,4 persen), Curhat dengan Anjasmara (TPI; 6,6 persen), Inayah (Indosiar; 5,7 persen), dan Ronaldowati 2 (TPI; 4,7 persen).

Menanggapi hasil penelitian SET itu, Head of Marketing Public Relation Trans TV Ahmad Hadiansyah Lubis mengatakan, pihaknya terbuka terhadap segala macam kritikan untuk Termehek-mehek, Suami-Suami Takut Istri, maupun acara lainnya.

"Sah-sah saja orang memberikan komentar ataupun kritikan mengenai Termehek-mehek. Semakin banyak yang memberi komentar, semakin banyak yang menonton dan juga membuat orang yang tadinya tidak menonton jadi ingin tahu. Setelah itu, (penilaian) kita serahkan kepada penonton," ujar Ahmad ketika dihubungi Warta Kota, Selasa (24/6).

Ahmad menambahkan, dia heran karena hasil penelitian SET tersebut bertolak belakang dengan pengakuan bahwa Termehek-mehek sebagai program terfavorit untuk kategori reality show pada Panasonic Award baru-baru ini.

Ahmad mengaku belum meli-hat detail hasil penelitian SET tersebut. Namun, kata dia, pihaknya akan menjadikan hasil penelitian itu sebagai bahan evaluasi atas seluruh program di Trans TV.

Selain memeringkat acara terburuk, SET juga memeringkat program televisi terbaik, yang posisi teratasnya ditempati Kick Andy (Metro TV; 33,5 persen), Apa Kabar Indonesia Malam (TV One; 6,6 persen), Liputan 6 Petang (SCTV; 6,1 persen), Seputar Indonesia (RCTI; 3,8 persen), dan Bocah Petualang (Trans7; 3,3 persen).

Kick Andy juga mendapat posisi tertinggi untuk kategori program yang paling menambah pengetahuan pemirsa (10,8 persen), diikuti Liputan 6 dan Seputar Indonesia. (wik)

D’Show Jadi Pilihan Pemirsa

Head of Marketing and Public Relation Trans TV, Ahmad Hadiansyah Lubis, tidak melihat adanya pertanyaan atau keberatan dari pemirsa terkait dengan dihentikannya acara Dorce Show. Justru tanggapan positif datang dari pemirsa begitu D’Show yang dibawakan Desy Ratnasati mulai ditayangkan akhir April lalu.

Tayangan D’Show berbeda dari sisi tampilan maupun isi. Acaranya tidak hanya dari sisi bintang tamu dan pembawa acara melainkan dari dua arah. Penonton di studio bisa berinteraksi dengan bintang tamu dan memberi pertanyaan sesuai dengan tema acara tersebut. Isi acara lebih banyak mengenai kenyataan yang terjadi pada kehidupan orang biasa.

Isi acara yang variatif dan lebih interaktif ini diakui Ahmad lebih disukai penonton karena lebih segar dan baru. Selain itu juga karena kehadiran pembawa acara D’Show, yakni Desy Ratnasari.

”Kalau hanya isi acaranya diganti tanpa mengganti host-nya berarti pergantiannya tidak signifikan. Jadi sama saja. Sedangkan kita ingin membuat acara baru,” ujar Hadiansyah yang enggan menyebutkan honor untuk Desy.

Dorce Show yang sudah berjalan selama empat tahun dinilai Trans TV sudah memiliki tempat tersendiri di hati pemirsa. Dorce Show juga dianggap berhasil karena bertahan ditayangkan lima kali seminggu selama empat tahun. Tidak banyak acara yang bisa bertahan selama itu. Trans TV juga mulai melihat perlunya perubahan acara agar penonton tidak jenuh.

Awalnya, Trans TV hendak mengurangi jam tayang Dorce Show jadi tiga kali seminggu untuk memberi tempat bagi acara baru D’Show yang rencananya dua kali seminggu. Namun, hal ini rupanya tidak disetujui oleh Dorce. ”Bahkan ketika kami menawari Dorce untuk membuat acara lainnya, ternyata dia menolak,” kata Ahmad.

Trans TV menolak dikatakan bahwa penghentian siaran Dorce Show dilakukan mendadak tanpa pemberitahuan. Menurut Ahmad, segala keputusan Trans TV untuk membuat acara baru tidak ada hubungannya dengan acara sebelumnya.

Desy Ratnasari belum bisa dimintai komentarnya. Telepon genggamnya tidak bisa dihubungi. Namun beberapa waktu lalu Dessy sempat menjawab pertanyaan apakah siap membawakan acara ini sehingga bisa menyamai Dorce Show. Dessy mengatakan, kemampuan tim kreatif D’Show maupun dirinya bisa menjadikan acara tersebut sebagai salah satu pilihan pemirsa televisi di siang hari.


Tolak dipanggil Bunda
Sementara itu, Dorce tampaknya sudah ogah dipanggil Bunda, panggilan populernya pada acara Dorce Show. ”Jangan panggil Bunda. Rasanya tua dan sudah punya banyak anak,” ujar Dorce berkelakar ketika menjadi bintang tamu di syuting acara Untung Ada Budi (UAD) di antv, Jumat (22/5).

Budi Anduk, pembawa acara UAD, tersenyum-senyum mendengar kelakar Dorce yang menolak dipanggil Bunda. Ia kemudian mengubah panggilannya kepada Dorce dengan sebutan Mbak Dorce. Artis yang memiliki nama asli Dedi Yuliardi Ashadi ini langsung tersenyum cerah begitu dipanggil Mbak meski bintang tamu di UAD masih memanggilnya Bunda Dorce. (wik)

Senin, 13 Juli 2009

Termehek-mehek Bohongi Penonton

Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat Fetty Fajriati Misbach mengatakan program televisi Termehek-mehek (Trans TV) membohongi penonton karena tidak seluruh tayangan berdasarkan realitas.

”Mereka bilang itu reality show, padahal bukan. Ini membohongi masyarakat,” kata Fetty seusai sosialisasi hasil pemantauan KPI di Batam, Kamis (11/6).

Termehek-mehek adalah salah satu program yang dianggap paling disukai oleh pemirsa. Jam tayangnya yang prime time, yaitu pukul 18.15-19.00, hingga back song-nya yang keren dan syahdu membuat acara ini makin diminati. Acara ini disiarkan dua kali seminggu, yaitu setiap Sabtu dan Minggu.

Dalam bahasa Jawa, istilah nggak mehek artinya kurang lebih meremehkan atau menganggap kecil sesuatu. Namun dalam bahasa gaul, termehek-mehek mempunyai arti menangis tersedu-sedu.

Acara ini muncul sekitar Mei 2008 dan segera menarik perhatian mayoritas pemirsa TV. Ide acara adalah membantu mencari seseorang yang lama hilang. Jalinan ceritanya begitu memesona karena dibuat seakan-akan nyata dan dengan sebenarnya terjadi.

Menurut Fetty, tayangan Termehek-mehek telah dibumbui skenario yang didramatisasi. Jadi, sudah seharusnya tim program Termehek-mehek jujur dengan menyebut acara itu sebagai drama reality, bukan reality show.

”Pemberitahuan di akhir acara yang kira-kira berbunyi tayangan ini telah mendapatkan persetujuan semua pihak yang terlibat, membuktikan pembohongan,” kata Fetty. ”Dengan adanya tulisan itu, tayangan tersebut seolah-olah nyata,” tambahnya.

Di tempat yang sama, Panca, perwakilan Trans Corporation mengakui bahwa Termehek-mehek tidaklah murni kisah nyata, melainkan sebuah drama reality. ”Dari awal, kita maunya drama reality, tetapi AC Nielsen tidak memiliki genre itu,” katanya.

Karena keperluan survei pemirsa itulah, Termehek-mehek dilabeli reality show sehingga bisa disurvei. Berdasarkan data AC Nielsen pada akhir tahun 2008, Termehek-mehek merupakan program paling populer dengan raihan rating 7,2 poin dan share 27,3 persen. Angka-angka ini tertinggi dari semua acara reality show di beberapa stasiun televisi.

Rekayasa
Termehek-mehek hampir semua episode adalah rekayasa! Cara gampang untuk mengenali bahwa acara ini adalah rekayasa bisa diperhatikan dari kualitas suara yang jernih ketika terjadi percakapan antara host, klien, dan target. Kejernihan suara itu karena adanya chip untuk mikrofon yang biasanya dipasang di baju.

Begitu pula dengan para pelaku yang terlibat dalam acara itu. Jika penonton jeli, pasti akan tahu bahwa beberapa pemeran atau pemainnya adalah pemain sinetron meskipun hanya sebagai tokoh figuran. ”Jangan heran kalau kita mendapatkan seorang pelaku bermain di dua episiode Termehek-mehek,” kata Arif, mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Jakarta.

Menurut Arif, kepastian bahwa itu rekayasa diperoleh dari temannya yang pernah menjadi pemain dalam acara Termehek-mehek. ”Sehari setelah dia tampil di acara itu, saya telepon dia. Ternyata dia menjawab itu bohongan. Dia main seperti bintang film mengikuti skenario,” katanya.

Berdasarkan informasi dari salah satu karyawan Trans Corporation yang tidak mau disebut namanya, hampir setiap hari di stasiun TV tempatnya bekerja diadakan casting atau seleksi bagi para pemain Termehek-mehek. ”Casting-nya di lantai dasar, biasanya siang hari. Memang nggak terlalu banyak sih,” ujarnya.

Tidak ada tulisan ”casting termehek-mehek” di tempat itu. ”Kalau ada tulisannya, entar semuanya tahu, kalau ini kan yang tau cuma orang kantor,” tuturnya lagi.

Menanggapi komentar masyarakat yang mengatakan acara Termehek-mehek direkayasa, Planning & Schedule Dept Head Programing Division Trans TV, Aries Ananda, mengakui bahwa sebagian dari acara ini memang rekayasa. Namun, ia membantah kalau cerita itu diambil bukan dari kisah asli.

”Ada yang memang kami reka adegannya karena narasumbernya tidak mau ditampilkan di televisi. Jadi biar acaranya menjadi baik, terpaksa dilakukan reka adegan. Namun, ceritanya sendiri merupakan kisah nyata,” ungkap Aries.

Pada situs jejaring sosial Facebook, terdapat grup anti-Termehek-mehek. Hingga kemarin, jumlah anggota grup ini mencapai 6.845 orang. Dalam grup dituliskan, ”group ini di dedikasikan untuk semua orang yang benci Termehek-mehek yang disiarkan oleh Trans TV, karena semua yang ada di sana adalah skenario dan tipuan dan benar benar tidak mendidik".
(Ant/sab/wik)

Jumat, 10 Juli 2009

Tukul dan Anjasmara Dipantau KPI




Belum lama ditayangkan di stasiun TPI, reality show Curhat Dengan Anjasmara langsung mendapat pantauan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Perhatian KPI pada acara yang jenisnya tidak jauh berbeda dari acara Termehek-mehek di Trans TV itu tidak lepas dari banyaknya pengaduan dari masyarakat yang masuk ke KPI.

"Saya tidak tahu berapa jumlah pengaduan yang masuk ke KPI. Tetapi yang saya dengar memang banyak yang mengadukan acara Curhat Dengan Anjasmara. Jadi, acara ini masih dalam pantauan kami," tutur Nina Armando Msi, wakil ketua tim panelis, di sela-sela jumpa pers Pengumuman Hasil Pantauan KPI periode Februari di Gedung Bapeten, Rabu (6/5).

Program talkshow Curhat Dengan Anjasmara merupakan program reality show sejenis Termehek-mehek. Program ini menampilkan bintang tamu yang memiliki masalah yang kemudian dipertemukan untuk dibahas dan diselesaikan.

Sejumlah masyarakat yang mengirimkan pengaduan meminta KPI memantau tayangan yang dalam iklannya memperlihatkan pertengkaran berlebihan.

Hal yang sama juga dihadapi program acara Termehek-mehek. Program yang masih dalam pantauan KPI ini masih belum bisa ditetapkan sebagai program acara reality show atau sinetron lepas mengingat banyak keanehan yang muncul dalam penayangannya.

Misalnya, penggunaan tata bahasa pemain ketika berada dalam kondisi emosi. "Seseorang kalau sedang emosi, biasanya kata-kata yang dilontarkan tidak teratur. Tetapi di acara itu, justru menggunakan tata bahasa yang teratur. Ini membuat kami masih mempertimbangkan apakah acara ini benar reality show atau kita masukkan dalam program sinetron lepas," tutur Nina.

Jika sudah jelas jenis programnya, KPI bisa memberikan batasan-batasan yang lebih tepat, karena Termehek-mehek dianggap termasuk tayangan yang cukup bermasalah mengingat pemandu acara kerap kali bukan menjadi penengah dari suatu masalah.

Sebuah program reality show seharusnya membuat sebuah masalah menjadi lebih baik bukan menjadi lebih ruwet. Setiap cerita yang ditayangkan pada Termehek-mehek justru semakin meruwetkan masalah yang ada.

Sementara itu, sebanyak tujuh program acara televisi mendapat teguran dari KPI, di antaranya adalah Dahsyat dan Bukan Empat Mata. Acara musik Dahsyat yang dipandu oleh Luna Maya, Olga Syahputra, dan Raffi Ahmad dianggap mengandung unsur porno dalam setiap celetukan-celetukannya.

Pada program Dahsyat yang ditayangkan tanggal 1 Mei 2009 pukul 09.00, KPI menilai pembawa acara mengucapkan kata-kata vulgar yang tidak pantas disiarkan di televisi. Pantauan pada program Dahsyat ini tidak lepas dari pengaduan masyarakat yang masuk ke KPI.

Untuk program Bukan Empat Mata yang dipandu pelawak Tukul Arwana, kembali menuai teguran. Sebelumnya, program yang hanya berganti nama itu telah mendapat teguran dari KPI ketika masih bernama Empat Mata.

Kemudian, nama acara diganti menjadi Bukan Empat Mata meski isi program semuanya sama. Bukan Empat Mata ditegur karena melanggar norma kesopanan dan kesusilaan.

Pada program ini, pembawa acara yakni Tukul Arwana dan bintang tamu yang diundang banyak mengeluarkan celetukan-celetukan yang mengarah pada hal-hal yang berbau seks. Tukul juga dinilai tidak etis karena membelai wanita dan hendak mencium.

Teguran lainnya juga ditujukan kepada program Big Movie di Global TV yang menayangkan film asing berjudul Man of Wars, US Seal 2, Air Marshall, dan Prophet.

Film-film ini dinilai menampilkan adegan kekerasan fisik yang sangat intensif dan dilakukan tanpa atau dengan senjata. Cara pembunuhan juga diperlihatkan close- up hingga tergambar dengan rinci bagaimana senjata digunakan untuk membunuh sekaligus ekspresi wajah korban. Muncul juga dalam film-film ini kata-kata kasar dan makian dalam bahasa Inggris.

Teguran juga ditujukan pada program acara Sinetron Lepas Indosiar (FTV). Acara ini banyak menampilkan kekerasan verbal dan fisik dengan atau tanpa senjata dalam bentuk memukul, menjambak, juga menendang.

Kekerasan itu melibatkan anak-anak, remaja, dan orangtua baik sebagai korban maupun pelaku. Apalagi klasifikasi yang diberikan yaitu R (remaja) dan BO (bimbingan orangtua) ternyata tidak sesuai.

Pada pantauan bulan Februari 2009, KPI melakukan pemantauan untuk 15 program acara yang merupakan hasil pengaduan masyarakat. Dari 15 acara ini, ada 11 yang berpotensi melanggar etika penyiaran.

Dan setelah disaring lagi, hanya ada tujuh acara yang masuk wilayah lampu merah berupa teguran dan yang masuk zona lampu kuning berupa imbauan. (wik)

Acara yang mendapat teguran:
1. Big Movie-Global TV
2. Sinetron Lepas-Indosiar
3. Bukan Empat Mata-Trans7
4. Dahsyat-RCTI

Acara yang mendapat imbauan:
1. Bodo Amat Ah-TPI (sudah tidak tayang)
2. Lajang-antv
3. Cagur Naik Bajaj-antv

Pengaduan ke KPI
e-mail: kpi.go.id
ponsel: 081213070000
faks/telp: (021) 6340667/6340713